incendio
"menitipkanmu kepada Tuhan tigajam tiap harinya pun,
sebenarnya aku tak rela."-12
tetiba pagi,
di kembalikan nya lagi yang kutitipkan kepada Tuhan,
di bawakan nya oleh mentari kepadaku,
kamu,
debar yang masih enggan untuk diterima dalam kenyataan ,
yang masih bebani dada saat kuseduh kopi ,
dalam pekat hitamnya,
pahitnya serupa getir yang menyadarkan bahwa sosok yang dipuja,
sebenarnya telah tiada,
namun,
manis mu yang lihai mengajakku berlama membelai kenangan,
mengingat kembali lesung pipi perpisahan,
menemaniku menyempurnakan mendung pagi ini.
beranjak siang .
seperti dimakinya ku oleh kerumunan makhluk alam raya,
dianggaplah diriku gila,
mereka bak menertawakan mu,
hanya ke absurd an buah imajinasi yang dilahirkan sepi
untuk dipaksakan sebagai penggembira.
hmmm ...
biarlah mereka anggap begitu,
toh, meyakinkan kamu ada bukan tujuan sebenarnya.
mereka yang tak percayai ku lalu lantas menghakimi mu.
nyatanya hanya berharap lekas ku temukan pengganti sosok itu,
untuk melepas kenangan yang telah terpatri kan,
olehmu.
baiklah,
mempertahankan perasaan tak semudah meretas tulisan ini.
godaan bertubi tubi dari mereka yang tak inginkan rindu menjadi alasan untuk menggagahkan ku kembali mempertahankan kamu,
mempertahankan panasmu yang abadi melawan peraduan waktu,
yang dikiranya akan nihil bahkan mustahil .
maka sejujurnya,
memang lebih mudah menikung rasa,
daripada selalu mengamini sosokmu akan selalu ada,
membagi bahu dengan yang tak sefatamorgana kamu.
yang jelas nampak di pelupuk mata walau hati mungkin tak mampu sama ,
tetapi, tak terfikir untuk bisa membagi hati kepada yang lain.
bukan lah dosa akan pengingkaran janji yang kutakutkan,
hanya saja, dampaknya,
akan lebih mencekam apabila memaksa menimpa perasaan .
'terjebak dalam keterpura-puraan,
hanya memastikan cinta itu nampak di mata,
namun hati untuknya tak akan pernah ada,
setelah itu,
pasti merajam si empunya yang rela diajak mendua .'
lalu senja segera tiba,
dan kau kini tau bagaimana sepanjang hariku hingga kubawa lelap lagi,
masih dipertahankan nya kamu,
yang diragukan tetapi memenangkan hati dan malam ini masih kamu dominasi,
biarkan mereka meragukan ku,
namun takkan kubiarkan ada yang mengganti mahadewi sepertimu.
walau kadang sepi, kecentilan lagi untuk menggoda ke absurd an hadirmu.
sebab itulah,
senantiasa ku taburi bunga doa sebelum kutarik selimutku,
agar kau tetap wangi, aroma yang bisa kunikmati hingga semerbak menembus mimpiku.
saat kamu sementara kutitipkan,
kepada Tuhan disana yang kutahu pandai menjaga amanatku.
tigajam kutinggalkan sejenak dalam kuasa alam bawah sadarku.
sebelum kupinta lagi kamu dari Tuhan
kala terbuka mata dan mentari mengiringi bangun tidurku.
untuk diperjuangkan nya kamu lagi .
mempertahankanmu, sampai nanti,
sampai kelak dipertemukan dengan sosok sepertimu.
dalam nyata hari .

No comments:
Post a Comment