*Sonorus
" yang mendewakan uang untuk mengambil hati kota ini,
bergelar agar dihargai dan dianggap tinggi, enyah saja
usaha kalian akan sia sia."- 11
kalian yang tinggal di kota-kota besar disana boleh bangga,
punya berderet mall hingga gedung tinggi nan indah
yang sepanjang hari jelas tak akan pernah membuat kalian mati gaya apalagi basi.
tapi kalo boleh kalian mawas diri,
coba tengok kembali apa sejarah kota kalian sebenarnya belum benar-benar terbenam?
meredup tergantikan gemerlap kemewahan modern ini yang kian lama rajin di tawarkan?
nah....
dengan nada meninggi
saya mohon maaf kepada Tuhan.
untuk kali ini,
menyurati semua orang .
lancang membanggakan kota tempat saya tinggali,
yang ingin saya sombongkan keistimewaan nya ,
kota ini,
keibuan sekali bagi saya.
saya dan sejawat tak mengenal konsep percakapan elo - gue tipikal orang kota.
karena bahasa jawa masih berkumandang lantang dikota ini,
bukan nya antipati juga dengan penggunaan bahasa indonesia untuk bercakap di jogja,
yang jelas masih bagian dari NKRI.
tapi bagaimanapun juga,
bahasa ibu lebih nyaman buat saya dan sejawat yang tinggal disini,
maka.,
sebut saja saya orang desa,
namun teramat bangga dengan bahasa daerah nya.
saya dan sejawat juga jarang menikmati kemewahan pemuas macam berdirinya deretan mall serta gedung tinggi nan akan mencolok mata kami .
karena di jogjakarta,
biasa kami temui hanya hamparan sawah yang masih mendominasi,
para petani dan pedagang di pasar teradisional giat mengais rejeki,
elemen masyarakat yang berusaha memerdekakan diri,
namun mampu duduk sama rendah mengembangkan ekonomi rapi dikota ini.
bukan seperti mereka yang bermewah ria
yang enggan untuk membumi.
tempo hari ke istimewaan kami di usik juga oleh RI.
tapi alangkah salah bagi mereka yang mengusik kota ini,
tetangga berisik yang salah kaprah meragukan kualitas kota kami.
jogja,
bukanlah kota yang ingin dipandang istimewa dengan memelas ke-absah-an pengesahan semata.
namun kami,
mencari jadi diri kami sendiri untuk layak dianggap istimewa bagi mereka yang datang,
dan mau diajak berkenalan dengan tradisi budi pekerti ,
menciptakan mindset kepada mereka bahwa
yang dihargai disini , jogjakarta
bukan lah saudagar kaya yang bergelimpahan harta.
namun mereka yang mampu bersikap ramah
dan menghargai adat kami .
"untuk mu, jogjakarta
saya teramat bangga bisa hidup dan mendewasa di sisimu,
menjadi bagian dari mu dan diperkenankan masih melek tradisi pekertimu.
kelak pun
saya rela dipanggil orang desa oleh anak cucuku karena terlalu lama mendiami mu,
karena bagi ku,
tak ada kota yang sedemikian nyaman yang bisa mengayomiku seperti kamu.
Jogjakartaku."

No comments:
Post a Comment