30/01/2012

kamu, kisah tak berujung airmata





*Obliviate
"mengingatmu, seperti masa kanak ku yang tak pernah mengenal airmata."-18




dear olivia,
apa kabar kamu?
kisah klasik masa kecil pertama ku mengenal Suka tanpa berujung airmata,
kubilang bukan cinta, toh seumuran itu aku pun ragu  pahami arti cinta sesungguhnya.
membedakan suka dari hati atau hanya rupawan pun aku tak mampu.
karena sungguh, kamu, memang cantik pusat perhatian mayoritas lelaki di sekolahan kita. 
kamu bak primadona di situ, sebuah prestasi kalo bisa pacari mu.


mendambamu hanya sesaat jam istirahat pun tak cukup bagiku.
maka kamu, selalu menjadi alasan ku sering berpamitan ke belakang saat masih jam pelajaran,
memutari sekolah, niat melewati beranda kelasmu, 
lalu memperlambat langkah sesampainya disitu,
mengintip dari sela pintu kelas yang selalu terbuka,
mengamati mu pemilik bangku barisan terdepan, 
sembari mencari peruntungan terjadi kontak mata diantara kita, 
lalu berharap kau lempar senyum kepadaku,


dear olivia
sesalku, belum pernah mengutarakan suka padamu, seperti dosa yang kurasakan saat kutulis surat ini.
menyadari bagaimana pengecutnya diri ku kala itu.
kalo boleh pun mengulang waktu,
maka surat ini sebenarnya lebih layak kulempar duabelas tahun silam,
kuselipkan di sela buku paketmu, agar kau baca sesampai mu di rumah,
lalu sadari bahwa dari sekian banyak lelaki di sekolahan kita yang menyukaimu,
aku pun ingin terlibat dalam daftar nya. daftar lelaki yang menyukaimu,
perkara diterima atau tidak nya rasa suka ku kepadamu,
akupun tak terlalu pikirkan itu,
namun yang pasti telah melegakan dari sesuatu yang lawas kupendam.


walau seandainya dulu akan kau terima rasa ku,
namun akupun tak janji bisa mempertahankanmu sampai hari ini dan menjadikan nya cinta.
karena selama ini, ada yang silih datang dan perganti,
mereka yang akhir-akhir ini pandai merayu hati untuk dicintai. 
lalu dengan bangsatnya meninggalkan luka dihati.


oleh Tuhan,
mungkin saja kamu memang hanya tertakdirkan untuk kusuka, 
menjadikan kita sekedar teman saja.
karena bagiku sejatinya kamu memang perempuan yang tak pernah menyederai hati,
sehingga lembaran putih kita masih terjaga dan rapi ,
mungkin maksud Tuhan, 
agar tertinggalkan jejak untuk diingat dalam gembira suatu saat nanti,
bukan dalam temaram kepahitan lagi.






No comments:

Post a Comment